SINGKONG DAN BURGER
SINGKONG DAN BURGER
Kenyataan itu lebih baik dari pada mimpi. Lebih baik makan singkong dalam kenyataan, dari pada makan burger tapi dalam mimpi. Singong memang kalah keren dibanding burger, bentuknyapun tidak terpoles mengkilat. Tapi singkong tidak kalah gizinya dibanding burger. Disamping ada karbohidrat, glukosa, protein, juga banyak gizi lainnya yang ada dalam singkong.
Jika kondisi dalam keadaan lapar, sementara dihadapan kita tersedia singkong hangat dan ikan asin gurih, maka orang yang cerdas pasti akan makan apa yang ada di depan mata, bukan berangan-angan burger yang belum tentu ada, masih dalam khayalan, masih dalam mimpi, apalagi itu memang utopia.
Sistem demokrasi Pancasila (selanjutnya disingkat SDP) mungkin kalah keren dengan Sistem Khilafah ala HTI (disingkat SKH). Seperti tidak ada "bau" Islamnya, seakan lebih dekat dengan Sansekerta. Namun SDP sudah nyata ada dihadapan dan telah, sedang dan akan dilaksanakan terus menerus di negeri tercinta Indonesia. SDP sudah 75 tahun dari tahun 1945 sampai 2020, mendampingi kehidupan berbangsa dan bernegara warga negara Indonesia. SDP sudah kita jalani dan benar-benar nyata ada, sedangkan SKH masih angan-angan, masih khayalan, masih ada dalam mimpi dan belum pernah terwujud dalam kehidupan nyata. Apakah bisa didirikan atau tidak, itu tidak jelas, itu hanya masih dalam mimpi (utopia level 4).
Air putih mungkin biasa-biasa saja, tidak sekeren fanta (atau minuman bersoda lainnya). Namun air putih nyata ada di depan mata. Sedangkan fanta memang manis, tapi itu belum ada di depan mata, masih dijanjiin, hanya katanya fanta itu enak, fanta segar segar dan kalimat manis lainnya. Sekali lagi iming-iming fanta hanyalah surga di telinga, tapi tidak pernah ada ddalam kehidupan nyata, apalagi meminumnya.
Air putih bisa diminum siapa saja. Orang diabet boleh minum air putih, orang gagal ginjal silahkan, orang stroke diijinkan minum air putih, orang typus bahkan orang terpapar corona, dibolehkan minum air putih. Artinya walau tidak keren, tidak memiliki nilai jual yang tinggi, tapi air putih bisa diterima banyak pihak. Orang sehat, orang sakit, anak kecil, orang dewasa, laki-laki bahkan perempuan semua bisa minum air putih.
Sebaliknya walau kelihatan keren, fanta (minuman jenis soda), tidak semua orang boleh meminumnya. Penderita diabetes, sakit kepala, sakit tulang, sakit jantung, gagal ginjal, obesitas, dehidrasi dan orang yang sakit organ vital tidak diperkenankan minum fanta.
Pancasila, walau kelihatan biasa-biasa saja tapi bisa diterima oleh semua golongan. Orang Islam (Islam moderat, liberal, radikal), Kristiani, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, aliran Kepercayaan, suku Jawa, Bugis, Padang, Aceh, dan lainnya bisa menerima Pancasila.
Sebaliknya, jika dasar negara pakai khilafah Islam (ala HTI), yang Nasrani, Hindu, Budha dan lainnya pasti menolaknya. Hanya kelompok Islam radikal saja yang menginginkan "khilafah", sementara Islam moderat dan Islam liberal serta kelompok nasionalis menolak sistem khilafah.
Sebaliknya, jika dasar negara pakai Injil, Weda atau Tripitaka maka umat Islam menolaknya. Dengan demikian, diambil jalan tengah-tengah, yaitu dasar negara demokrasi Pancasila. Pancasila bukan yang terbaik (sempurna), tapi minimal yang lebih baik diantara yang baik-baik. Artinya Pancasila mempunyai nilai lebih.
Ingat kaidah usul fiqih mengatakan:
يجب فعل المأمور به كله فإن قدر على بعضه وعجز عن باقيه فعل ما قدر عليه
“Wajib melakukan yang diperintahkan seluruhnya. Jika mampu melakukan sebagiannya dan sebagiannya tidak mampu, yang mampu tersebut tetap dikerjakan”
ما لا يدرك كله لا يترك كله
“Jika tidak didapati seluruhnya, jangan tinggalkan seluruhnya (yang mampu dikerjakan)”
Dalil mengatakan:
وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Jika aku memerintahkan sesuatu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian.”
Artinya jika belum bisa sempurna maka lakukanlah semampunya, lakukan yang bisa dulu, lakukanlah yang ada di depan mata sembari terus-menerus berikhtiar menuju ke arah kesempurnaan.
Salahnya para pengasong HTI itu, terletak pada cara membandingkan yang tidal apple to apple. Mereka membandingkan sesuatu yang "nyata empiris" versus sesuatu yang masih dalam "wacana idelistis" Sistem Demokrasi Pandasila (SDP) itu nyata empiris sedangkan Sistem Khilafah HTI (SKH) adalah angan-angan wacana idealis. SDP bentuk negaranya ada, sedangkan SKH bentuk "negaranya" masih dalam bayang-bayang dan khayalan.
Tentu saja mereka dengan mudah menemukan "kesalahan" SDP karena memang ada wujud sistemnya. Sementara bagaimana mau mengkritik Sistem Khilafah HTI, lha wong bentuk wujud "negara" yang menerapkan sistem itu tidak ada.
Namun dengan garangnya mereka menghujat keadaan sistem di NKRI, diantaranya masalah gempa dimana-mana, kedhaliman meraja-lela, banyak pembunuhan, kesetaraan gender, HAM yang sesat, LGBT, wabah corona, kriminalisasi ulama, rezim pendusta, presiden yang plonga-plongo dan hujatan lainnya.
Sementara mereka memberi solusi dengan bayang-bayang ideal sistem khilafah bahwa seharusnya sistem itu yang sesuai ajaran nabi, kedaulatan berada di tangan syara, hukum Islam yang terterapkan, hukum berdasar Alquran dan Sunnah, kehormatan wanita terjaga dan kalimat-kalimat manis lainnya. Namun itu hanya wacana idealis.
Namun pertanyaannya, "negara" yang seperti surga, yang dibayangkan idea itu mana wujudnya? Ternyata tidak ada. Harusnya untuk membandingkan kondisi riil pada Sistem Demokrasi Pancasila (SDP) versusnya jugaharus kondisi riel Sistem Khilaffah HTI (SKH). Tapi mereka hanya punya bayangan idealis, yang bayangan itu sebenarnya "properti" milik Islam, bukan milik HTI. Sekali lagi, yang dikoar-koarkan itu milik Islam, Islam sebagai agama, bukan Islam sebagai ideologi, apalagi Islam sebagaimana dipahami oleh para pengasong HTI.
Anehnya, mereka selalu berlindung dibalik "ketiak" Islam. Siapa yang menghujat HTI berarti menghujat Islam. Siapa yang melawan agenda khilafah ala HTI berarti melawan Islam. Inilah bentuk keradikalan mereka, radikal dalam monopoli kebenaran.
Dikiranya Islam itu hanya kelompoknya. faktanya, mereka punya pola pikir radikal namun dituduh sebagai kelompok radikal tidak mau. Repot.
#HubbulWathonMinalIman
Di ambil dari Facebook hubbul wathon minal iman
Kenyataan itu lebih baik dari pada mimpi. Lebih baik makan singkong dalam kenyataan, dari pada makan burger tapi dalam mimpi. Singong memang kalah keren dibanding burger, bentuknyapun tidak terpoles mengkilat. Tapi singkong tidak kalah gizinya dibanding burger. Disamping ada karbohidrat, glukosa, protein, juga banyak gizi lainnya yang ada dalam singkong.
Jika kondisi dalam keadaan lapar, sementara dihadapan kita tersedia singkong hangat dan ikan asin gurih, maka orang yang cerdas pasti akan makan apa yang ada di depan mata, bukan berangan-angan burger yang belum tentu ada, masih dalam khayalan, masih dalam mimpi, apalagi itu memang utopia.
Sistem demokrasi Pancasila (selanjutnya disingkat SDP) mungkin kalah keren dengan Sistem Khilafah ala HTI (disingkat SKH). Seperti tidak ada "bau" Islamnya, seakan lebih dekat dengan Sansekerta. Namun SDP sudah nyata ada dihadapan dan telah, sedang dan akan dilaksanakan terus menerus di negeri tercinta Indonesia. SDP sudah 75 tahun dari tahun 1945 sampai 2020, mendampingi kehidupan berbangsa dan bernegara warga negara Indonesia. SDP sudah kita jalani dan benar-benar nyata ada, sedangkan SKH masih angan-angan, masih khayalan, masih ada dalam mimpi dan belum pernah terwujud dalam kehidupan nyata. Apakah bisa didirikan atau tidak, itu tidak jelas, itu hanya masih dalam mimpi (utopia level 4).
Air putih mungkin biasa-biasa saja, tidak sekeren fanta (atau minuman bersoda lainnya). Namun air putih nyata ada di depan mata. Sedangkan fanta memang manis, tapi itu belum ada di depan mata, masih dijanjiin, hanya katanya fanta itu enak, fanta segar segar dan kalimat manis lainnya. Sekali lagi iming-iming fanta hanyalah surga di telinga, tapi tidak pernah ada ddalam kehidupan nyata, apalagi meminumnya.
Air putih bisa diminum siapa saja. Orang diabet boleh minum air putih, orang gagal ginjal silahkan, orang stroke diijinkan minum air putih, orang typus bahkan orang terpapar corona, dibolehkan minum air putih. Artinya walau tidak keren, tidak memiliki nilai jual yang tinggi, tapi air putih bisa diterima banyak pihak. Orang sehat, orang sakit, anak kecil, orang dewasa, laki-laki bahkan perempuan semua bisa minum air putih.
Sebaliknya walau kelihatan keren, fanta (minuman jenis soda), tidak semua orang boleh meminumnya. Penderita diabetes, sakit kepala, sakit tulang, sakit jantung, gagal ginjal, obesitas, dehidrasi dan orang yang sakit organ vital tidak diperkenankan minum fanta.
Pancasila, walau kelihatan biasa-biasa saja tapi bisa diterima oleh semua golongan. Orang Islam (Islam moderat, liberal, radikal), Kristiani, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, aliran Kepercayaan, suku Jawa, Bugis, Padang, Aceh, dan lainnya bisa menerima Pancasila.
Sebaliknya, jika dasar negara pakai khilafah Islam (ala HTI), yang Nasrani, Hindu, Budha dan lainnya pasti menolaknya. Hanya kelompok Islam radikal saja yang menginginkan "khilafah", sementara Islam moderat dan Islam liberal serta kelompok nasionalis menolak sistem khilafah.
Sebaliknya, jika dasar negara pakai Injil, Weda atau Tripitaka maka umat Islam menolaknya. Dengan demikian, diambil jalan tengah-tengah, yaitu dasar negara demokrasi Pancasila. Pancasila bukan yang terbaik (sempurna), tapi minimal yang lebih baik diantara yang baik-baik. Artinya Pancasila mempunyai nilai lebih.
Ingat kaidah usul fiqih mengatakan:
يجب فعل المأمور به كله فإن قدر على بعضه وعجز عن باقيه فعل ما قدر عليه
“Wajib melakukan yang diperintahkan seluruhnya. Jika mampu melakukan sebagiannya dan sebagiannya tidak mampu, yang mampu tersebut tetap dikerjakan”
ما لا يدرك كله لا يترك كله
“Jika tidak didapati seluruhnya, jangan tinggalkan seluruhnya (yang mampu dikerjakan)”
Dalil mengatakan:
وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Jika aku memerintahkan sesuatu, maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian.”
Artinya jika belum bisa sempurna maka lakukanlah semampunya, lakukan yang bisa dulu, lakukanlah yang ada di depan mata sembari terus-menerus berikhtiar menuju ke arah kesempurnaan.
Salahnya para pengasong HTI itu, terletak pada cara membandingkan yang tidal apple to apple. Mereka membandingkan sesuatu yang "nyata empiris" versus sesuatu yang masih dalam "wacana idelistis" Sistem Demokrasi Pandasila (SDP) itu nyata empiris sedangkan Sistem Khilafah HTI (SKH) adalah angan-angan wacana idealis. SDP bentuk negaranya ada, sedangkan SKH bentuk "negaranya" masih dalam bayang-bayang dan khayalan.
Tentu saja mereka dengan mudah menemukan "kesalahan" SDP karena memang ada wujud sistemnya. Sementara bagaimana mau mengkritik Sistem Khilafah HTI, lha wong bentuk wujud "negara" yang menerapkan sistem itu tidak ada.
Namun dengan garangnya mereka menghujat keadaan sistem di NKRI, diantaranya masalah gempa dimana-mana, kedhaliman meraja-lela, banyak pembunuhan, kesetaraan gender, HAM yang sesat, LGBT, wabah corona, kriminalisasi ulama, rezim pendusta, presiden yang plonga-plongo dan hujatan lainnya.
Sementara mereka memberi solusi dengan bayang-bayang ideal sistem khilafah bahwa seharusnya sistem itu yang sesuai ajaran nabi, kedaulatan berada di tangan syara, hukum Islam yang terterapkan, hukum berdasar Alquran dan Sunnah, kehormatan wanita terjaga dan kalimat-kalimat manis lainnya. Namun itu hanya wacana idealis.
Namun pertanyaannya, "negara" yang seperti surga, yang dibayangkan idea itu mana wujudnya? Ternyata tidak ada. Harusnya untuk membandingkan kondisi riil pada Sistem Demokrasi Pancasila (SDP) versusnya jugaharus kondisi riel Sistem Khilaffah HTI (SKH). Tapi mereka hanya punya bayangan idealis, yang bayangan itu sebenarnya "properti" milik Islam, bukan milik HTI. Sekali lagi, yang dikoar-koarkan itu milik Islam, Islam sebagai agama, bukan Islam sebagai ideologi, apalagi Islam sebagaimana dipahami oleh para pengasong HTI.
Anehnya, mereka selalu berlindung dibalik "ketiak" Islam. Siapa yang menghujat HTI berarti menghujat Islam. Siapa yang melawan agenda khilafah ala HTI berarti melawan Islam. Inilah bentuk keradikalan mereka, radikal dalam monopoli kebenaran.
Dikiranya Islam itu hanya kelompoknya. faktanya, mereka punya pola pikir radikal namun dituduh sebagai kelompok radikal tidak mau. Repot.
#HubbulWathonMinalIman
Di ambil dari Facebook hubbul wathon minal iman

No comments for "SINGKONG DAN BURGER"
Post a Comment