NU dan HTI itu BEDA BANGET
NU dan HTI itu BEDA BANGET
Jujur saja, jika dibandingkan, jika ditanya alim-aliman, lebih 'alim mana Hadratussyeikh Hasyim Asyari dengan Syeikh Taqiyuddin an-Nahbhani?
Jawabnya adalah pasti lebih alim Hasyim Asyari. Dilihat dari gelarnya saja sudah beda, Hadratus syeikh dan syeikh. Di Arabpun harang yang punya gelar hadratussyeikh, paling-paling cuma syeikh saja. Syarat untuk mendapat gelar Hadatussyeikh harus hafal Kutubut Tis'ah beserta rijaul haditsnya sekalian. Disamping itu Hadratussyeikh Hasyim Asyari juga berhasil mendapat ijazah dan sanad langsung Shahih Bukhari Muslim.
Ini menunjukkan bahwa Hadratussyeikh itu ulama 'allamah, alim ulama yang top, bukan ulama sembarangan, bukan ulama abal-abal,bukan ulama politik. Inilah yang membedakan dengan Syeikh Taqiyudin an-Nabhani. Dia itu lebih ke politikus dari pada ulama. Apa lagi, proyek pendirian Hizbut Tahrir-nya didanai oleh Inggris. Sampai sekarangpun kantor pusat Hizbut Tahrir Internasional berada di London, Inggris.
Semenjak NU didirikan sampai saat ini tidak pernah mengagendakan program pendirian khilafah ala HTI. Tidak ada tuh, dan tak pernah. Dari pendiri NU, muassis NU, ulama NU dari dulu sampai detik ini, TIDAK PERNAH PUNYA PIKIRAN MENDIRIKAN KHILAFAH dalam artian sistem pemerintahan sebagimana dagangan para pengasong khilafah HTI.
Padahal pada ulama, kiai, ustadz itu tiap hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang diperjuangkan penerapan syariah. Yang dilakukan adalah mengajar ngaji di pondok pesantren, ceramah di mana-mana, dalam rangka mendakwahkan syariat Islam, TAPI tidak ada perintah satupun untuk mendirikan khilafah ala HTI. Tidak ada tuh.
Dan memang, menerapkan syariat Islam itu bisa tanpa harus membuat sistem pemerintahan khilafah. Justru dengan menerapkan khilafah ala HTI di Indonesia akan menyebabkan syariat Islam tidak bisa dilaksanakan dengan baik, karena pasti ada pertumpahan darah antara anak bangsa, antar aliran Islam sehingga akan mengganggu taqarrub kepada Allah SWT.
Para ulama NU, Muhammadiyah dan ulama Islam lainnya telah sepakat dengan model nation state (negara bangsa), sistem yang ada di NKRI ini berdasar Pancasila dan UUD 1945. Semua itu sudah diistikharahi para ulama Indonesia. Jika saat ini para pangasong HTI mengutak-atik fondasi bangsa dan negara RI maka nyata mereka telah berkhianat kepada ulama NU, ulama Muhammadiyah dan founding father pendiri bangsa ini. Orang yang benar-benar asli Indonesia, tak akan mungkin merusak tatanan negara yang sudah dibangun para ulama Indonesia. Jika ada yang mengutak-atik fondasi RI, maka jangan-jangan mereka bukan asli orang Indonesia?
Inilah bedanya NU dan HTI, garis demarkasi sangat tegas dan jelas. Artinya jika ada orang NU tergiur dengan iming-iming propaganda HTI maka dia hakikatnya sudah keluar dari NU, dan telah berkhianat kepada pendiri, muassis dan ulama NU itu sendiri.
Untuk itu jika ada warga NU yang saat ini berada di barisan HTI maka kembalilah ke jalan yang benar, taubatlah, kembalilah ke pangkuan NU. Ingat apa yang dikatakan Hadratussyeikh, "Barang siapa mengurusi NU (juga berada dalam barisan NU) maka aku anggap santriku, dan barang siapa menjadi santriku, maka akan aku doakan husnul khatimah berserta keluarganya".
Namun jika ada yang melawan NU maka tunggulah akibatnya.
Ya Jabbar....
Ya Qahhar .....
NU Yes, HTI No
Islam Yes, Khilafah No
Syariah Yes, Khilafah No
(Nun)
Follow Instagram HWMI :
https://www.instagram.com/hubbul_wathon_
#HubbulWathonMinalIman
Jujur saja, jika dibandingkan, jika ditanya alim-aliman, lebih 'alim mana Hadratussyeikh Hasyim Asyari dengan Syeikh Taqiyuddin an-Nahbhani?
Jawabnya adalah pasti lebih alim Hasyim Asyari. Dilihat dari gelarnya saja sudah beda, Hadratus syeikh dan syeikh. Di Arabpun harang yang punya gelar hadratussyeikh, paling-paling cuma syeikh saja. Syarat untuk mendapat gelar Hadatussyeikh harus hafal Kutubut Tis'ah beserta rijaul haditsnya sekalian. Disamping itu Hadratussyeikh Hasyim Asyari juga berhasil mendapat ijazah dan sanad langsung Shahih Bukhari Muslim.
Ini menunjukkan bahwa Hadratussyeikh itu ulama 'allamah, alim ulama yang top, bukan ulama sembarangan, bukan ulama abal-abal,bukan ulama politik. Inilah yang membedakan dengan Syeikh Taqiyudin an-Nabhani. Dia itu lebih ke politikus dari pada ulama. Apa lagi, proyek pendirian Hizbut Tahrir-nya didanai oleh Inggris. Sampai sekarangpun kantor pusat Hizbut Tahrir Internasional berada di London, Inggris.
Semenjak NU didirikan sampai saat ini tidak pernah mengagendakan program pendirian khilafah ala HTI. Tidak ada tuh, dan tak pernah. Dari pendiri NU, muassis NU, ulama NU dari dulu sampai detik ini, TIDAK PERNAH PUNYA PIKIRAN MENDIRIKAN KHILAFAH dalam artian sistem pemerintahan sebagimana dagangan para pengasong khilafah HTI.
Padahal pada ulama, kiai, ustadz itu tiap hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang diperjuangkan penerapan syariah. Yang dilakukan adalah mengajar ngaji di pondok pesantren, ceramah di mana-mana, dalam rangka mendakwahkan syariat Islam, TAPI tidak ada perintah satupun untuk mendirikan khilafah ala HTI. Tidak ada tuh.
Dan memang, menerapkan syariat Islam itu bisa tanpa harus membuat sistem pemerintahan khilafah. Justru dengan menerapkan khilafah ala HTI di Indonesia akan menyebabkan syariat Islam tidak bisa dilaksanakan dengan baik, karena pasti ada pertumpahan darah antara anak bangsa, antar aliran Islam sehingga akan mengganggu taqarrub kepada Allah SWT.
Para ulama NU, Muhammadiyah dan ulama Islam lainnya telah sepakat dengan model nation state (negara bangsa), sistem yang ada di NKRI ini berdasar Pancasila dan UUD 1945. Semua itu sudah diistikharahi para ulama Indonesia. Jika saat ini para pangasong HTI mengutak-atik fondasi bangsa dan negara RI maka nyata mereka telah berkhianat kepada ulama NU, ulama Muhammadiyah dan founding father pendiri bangsa ini. Orang yang benar-benar asli Indonesia, tak akan mungkin merusak tatanan negara yang sudah dibangun para ulama Indonesia. Jika ada yang mengutak-atik fondasi RI, maka jangan-jangan mereka bukan asli orang Indonesia?
Inilah bedanya NU dan HTI, garis demarkasi sangat tegas dan jelas. Artinya jika ada orang NU tergiur dengan iming-iming propaganda HTI maka dia hakikatnya sudah keluar dari NU, dan telah berkhianat kepada pendiri, muassis dan ulama NU itu sendiri.
Untuk itu jika ada warga NU yang saat ini berada di barisan HTI maka kembalilah ke jalan yang benar, taubatlah, kembalilah ke pangkuan NU. Ingat apa yang dikatakan Hadratussyeikh, "Barang siapa mengurusi NU (juga berada dalam barisan NU) maka aku anggap santriku, dan barang siapa menjadi santriku, maka akan aku doakan husnul khatimah berserta keluarganya".
Namun jika ada yang melawan NU maka tunggulah akibatnya.
Ya Jabbar....
Ya Qahhar .....
NU Yes, HTI No
Islam Yes, Khilafah No
Syariah Yes, Khilafah No
(Nun)
Follow Instagram HWMI :
https://www.instagram.com/hubbul_wathon_
#HubbulWathonMinalIman

No comments for "NU dan HTI itu BEDA BANGET"
Post a Comment