NAMA BULAN SYA’BAN

NAMA BULAN SYA’BAN

Sumber: Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ma Dza fi Sya‘ban, cetakan pertama, tahun 1424 H, halaman 5.

Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki yang tidak asing di kalangan santri Indonesia bahkan menulis secara khusus sebuah buku dengan 152 halaman tentang bulan Sya’ban yang berjudul Ma Dza fi Sya‘ban?

Sayyid Muhammad Alwi mengawali bukunya dengan ulasan asal-usul kata “Sya‘ban”.

Sebelum masuk lebih rinci perihal keistimewaan bulan Sya‘ban, Sayyid Muhammad Alwi mendokumentasikan sejumlah pandangan ulama terkait penamaan bulan Sya‘ban seperti kami kutip berikut ini.

وسمي شعبان لأنه يتشعب منه خير كثير، وقيل معناه شاع بان، وقيل مشتق من الشِعب (بكسر الشين) وهو طريق في الجبل فهو طريق الخير، وقيل من الشَعب (بفتحها) وهو الجبر فيجبر الله فيه كسر القلوب، وقيل غير ذلك.

Artinya, “Bulan (kedelapan) hijriyah ini dinamai dengan sebutan ‘Sya‘ban’ karena banyak cabang-cabang kebaikan pada bulan mulai ini.

Sebagian ulama mengatakan, ‘Sya‘ban’ berasal dari ‘Syâ‘a bân yang bermakna terpancarnya keutamaan. Menurut ulama lainnya, ‘Sya‘ban’ berasal dari kata ‘As-syi‘bu’ (dengan kasrah pada huruf syin), sebuah jalan di gunung, yang tidak lain adalah jalan kebaikan.

Sementara sebagian ulama lagi mengatakan, ‘Sya‘ban’ berasal dari kata ‘As-sya‘bu’ (dengan fathah pada huruf syin), secara harfiah ‘menambal’ di mana Allah menambal (menghibur atau mengobati) patah hati (hamba-Nya) di bulan Sya’ban.

Ada pula ulama yang memahami bulan ini dengan makna selain yang disebutkan sebelumnya misalnya yang disampaikan oleh Al-Imam ‘Abdurraḥmān As-Shafury dalam literatur kitab momumentalnya Nuzhatul Majâlis wa Muntakhabun Nafâ’is mengatakan bahwa kata Sya’bān (شَعْبَانَ) merupakan singkatan dari :

ش 

Yang berarti kemuliaan (الشَّرَفُ).

ع 

Yang berarti derajat dan kedudukan yang tinggi yang terhormat (العُلُوُّ).

ب 

Yang berarti kebaikan (البِرُّ).

ا 

Yang berarti kasih sayang (الأُلْفَة).

ن 

Yang berarti cahaya (النُّوْرُ)

Secara historis, Ibnu Hajar al-’Asqalani mengatakan dalam kitab Al-Khulashah fi Syarhil-Khamsiin Asy-Syamiyah bahwa bulan ini dinamakan bulan Sya’ban karena saat penamaan bulan ini banyak orang arab yang berpencar-pencar mencari air atau berpencar-pencar di gua setelah berakhirnya bulan Rajab.

وَسُمِّيَ شَعْبَانُ لِتَشَعُّبِهِمْ فِيْ طَلَبِ الْمِيَاهِ أَوْ فِيْ الْغَارَاتِ بَعْدَ أَنْ يَخْرُجَ شَهْرُ رَجَبِ الْحَرَامِ

“Dinamakan Sya’ban karena mereka berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab Al-Haram”.

keutamaan bulan Sya’ban adalah adanya perintah bershalawat kepada Nabi Saw yang turun pada bulan ini. Perintah tersebut termaktub dalam Alquran surah:

Al-ahzab ayat 56;

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُـوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا (الاحزاب:)

Artinya;“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Saw. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi Saw dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”

Sebagian ulama berpendapat bahwa surah Al-ahzab ayat 56 tersebut turun pada lailatul isra’ (malam Isra), namun pendapat ini lemah karena menyelisihi pendapat mayoritas ulama. Bahkan Ibn Abi al-Shaif al-Yamani mempertegas bahwa surah Al-ahzab ayat 56 tersebut turun pada bulan Sya’ban. Al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani mengutip perkataan Abi Zar al-Harawi, menyatakan bahwa perintah bershalawat kepada Nabi Saw turun pada tahun kedua Hijrah bukan pada malam lailatul isra’.

Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza fi Sya’ban juga mengatakan bahwa surah Al-ahzab ayat 56 turun pada bulan Sya’ban. Beliau memperkuat pandangannya dengan menyebutkan salah satu hadis yang diriwayatkan al-Dailami dari Sayyidah Aisyah, dia berkata:

شَعْباَنُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ اللِه وَشَعْبَانُ المُطَهِّرُ وَرَمَضَانُ المُكَفِّرُ

Artinya: “Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan bulan Allah. Bulan Sya’ban menyucikan dan Ramadhan menggugurkan dosa”.

Dalam hadis ini sangat jelas Nabi Saw mengaku bahwa bulan Sya’ban adalah miliknya, sedangkan Ramadhan milik Allah. Pengakuan Nabi Saw ini, kata Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki, kemungkinan karena Sya’ban bulan bershalawat, bulan di mana surah Al-ahzab ayat 56 diturunkan sebagai perintah bershalawat kepada Nabi Saw.

Selanjutnya Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza Fi Sya’ban menjelaskan hakikat bershalawat kepada Nabi Saw. dan kenapa Allah memerintahkan kita sebagai umatnya wajib bershalawat kepadanya.
Terjemahan dari _Maa dzaa fii Sya'ban?_
Penulis : Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki
Penerjemah : H. Ahsan Ghozali, MA
Penerbit : Hai'ah ash-shofwah al-Malikiyah Surabaya
Tebal : xii + 236 halaman
Cetakan 1 : Maret 2016

Suatu masa itu menjadi mulia di sebabkan adanya beberapa peristiwa yg terjadi pada masa itu. Peristiwa itulah yg menjadi dasar atas diperolehnya suatu harga diri yg diperhitungkan bagi masa2 tertentu. Kadar kebesaran suatu peristiwa yg terjadi akan menjadi tolak ukur kebesaran yg didapatkan oleh suatu masa. Dan sejauh mana kemuliaan suatu peristiwa yg terjadi pada masa itu,sejauh mana kemuliaan yg didapatkan oleh masa tersebut.
Bulan sya'ban adalah salah satu bulan yg mulia&musim yg agung. Ia merupakan kemuliaan yg penuh dg berkah & kebaikan. Perbuatan taubat dibulan itu adalah suatu keberuntungan yg besar. Meningkatkan ketaqwaan kpd Allah SWT pd saat itu adalah bagaikan berdagang yg mendapatkan laba yg berlimpah. 
Allah SWT telah menjadikan bulan Sya'ban sebagai bagian dari berkah yg terkandung dalam masa & Allah SWT akan menjanjikan bagi org2 yg bertaubat dibulan itu dg suatu ketentraman & ketenangan. Barang siapa yg membiasakan dirinya rajin beribadah dibulan itu, maka ia akan mendapatkan keberuntungan kelak dibulan Ramadhan dg kebiasaan2 yg baik.                                                                                         
Info Pemesanan: 

https://wa.me/6282280929036

No comments for "NAMA BULAN SYA’BAN"