DOSEN GURU ATAU FASILITATOR
DOSEN
GURU ATAU
FASILITATOR
membahas tentang hal
ini mahasiswa diindonesia ke banyakan memandang dosen hanya sebagai fasilitator
belaka,bahkan yang parah lagi di anggap sebagai temannya dengan
alasan biar mudah berkomonikasi ,ini merupakan kesalahan yang sangat fatal bagi
mahasiswa hari ini.
Mahasiswa harus ingat dan harus kembali pada
tujuan awal sebelum berkuliah,agar mahasiswa tau tujuan niatnya,karna sesuai
dengan hadist .
اِنَّمَا
الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ اِنَّمَا لِكُلِّ امْرِءٍ مَا نَوَى lafadh zarnuji-syekh az- dalam karya nabi
“Sungguh amal itu dengan niat dan
sungguh setiap manusia akan mendapatkan apa yang diniatkannya”
Dengan begitu
mahasiswa bisa membentuk tatanan mahasiswa yang lebih baik di kampus ataupun di
luar kampus.sebelum mahasiswa melangkah lebih jauh ,mahasiswa terlebih dahulu
harus tau apa itu ilmu .
Imam az-zarnuji
menyebutkan dalam karyanya bahwa ilmu adalah “suatu sifat yang dengannya
sesuatu yang di sebutkan menjadi jelas bagi orang yang memililkinya”
Setelah mahasiswa mengetahui
hal itu ,rasanya sangat pantas bagi mahasiswa mengetahui syarat-syarat orang
mencari ilmu,di akui atau tidak saat itu mahasiswa menyandang status sebagai
murid.
Dalam kajian hukum Islam, bahwa standar hidup yang ideal bagi manusia
adalah Haddul Kifâyah, Lâ Haddul Kafaf (batas kecukupan, bukan batas pas-pasan)
Dan kita tahu bahwa kewajiban dalam menuntut ilmu dimulai dari rahim ibu sampai
liang lahat. Dengan demikian untuk memenuhi standar hidup yang ideal hendaknya
tidak hanya pas-pasan. Dalam kitab “Ta’lim al-Muta’allim” yang ditulis oleh
Imam Al-Zarnuji, beliau menulis bahwa syarat-syarat mencari ilmu menurut Imam
Syafi’i dari Imam Ali bin Abi Thalib ada 6, yaitu:
1. Cerdas
Cerdas adalah salah satu syarat untuk
menuntut ilmu.Kecerdasan adalah bagian dari pengaruh keturunan jalur psikis.
Dari ayah dan bunda yang cerdas akan lahir anak-anak yang cerdas, kecuali
adanya sebab-sebab yang memungkinkan menjadi penghalang transformasi
sifat-sifat tersebut baik situasi fisis maupun psikis. Sehat jasmani dan lemah
jasmani, makanan bayi dalam kandungan maupun situasi psikis ayah bunda seperti
semangat dan himmah menuntut ilmu, melakukan kejahatan, emosi, maupun warna
pikiran akan ikut memberikan pengaruh yang besar bagi keturunan. Itulah
buktinya bahwa dari ayah dan bunda yang sama akan lahir anak-anak dengan
kondisi fisik, watak, sifat dan kecerdasan yang berbeda.
Tentang kaitan keturunan dengan ilmu
pengetahuan maka kita perlu mengingat bahwa yang diturunkan dari orangtua
adalah tingkat kecerdasannya saja bukan kekayaan ilmu pengetahuan. Kekayaan
ilmu pengetahuan tidak ada jalan lain kecuali belajar dengan baik. Sabda nabi
SAW:
“Bahwasanya ilmu itu diperoleh dengan
(melalui) belajar”. Al-Hadis
Dan yang menjadi masalah sekarang
bagaimana anak yang cerdas (karena keturunan) tetapi tidak memiliki ketekunan
dan kesungguhan dalam menuntut ilmu, jawabannya sudah pasti bahwa dia tidak
akan menjadi orang pandai/‘Alim.
2. Rakus atau Tamak
Rakus adalah (punya kemauan dan
semangat untuk berusaha mencari ilmu)
“Kejarlah cita-citamu setinggi
langit”.Peribahasa ini memberikan arti bercita-citalah setinggi-tingginya dan
raihlah cita-cita itu sampai dimana pun.Peribahasa tersebut memberikan motivasi
kepada kita untuk pantang menyerah mengejar cita-cita (pendidikan) kita. Orang
yang menuntut ilmu haruslah seperti peribahasa di atas: “selalu berusaha dan
berusaha menuntut ilmu untuk mencapai cita-cita yang tinggi”. Bahkan menurut
Imam as-Syafi’i, dalam menuntut ilmu janganlah langsung merasa puas terhadap
apa yang telah didapat dan jangan hanya menuntut ilmu di satu daerah saja.
yang artinya:Pergilah kau, kan kau
dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup
terasa setelah lelah berjuang.
Rasul berpesan dalam sebuah hadis:
“Walaupun keshasihan hadis ini
dipertanyakan, setidaknya hadis ini memotivasi kita untuk pergi jauh dalam
menuntut ilmu dan mengejar cita-cita.”
Allah pun telah mengingatkan agar
tidak semua mu’min pergi berperang, melainkan ada segolongan diantara mereka
yang memperdalam ilmu agar bisa memberi peringatan kepada kaumnya
وَمَاكَانَالْمُؤْمِنُونَلِيَنْفِرُواكَافَّةًفَلَوْلانَفَرَمِنْكُلِّفِرْقَةٍمِنْهُمْطَائِفَةٌلِيَتَفَقَّهُوافِيالدِّينِوَلِيُنْذِرُواقَوْمَهُمْإِذَارَجَعُواإِلَيْهِمْلَعَلَّهُمْيَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang
yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).Mengapa tidak pergi dari
tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya.At-taubah ayat 122.”
Tiga kategori manusia menurut hadis
yang diriwatkan oleh Imam Dailami, Rasulullah bersabda:
ada tiga kategori manusia: Beruntung:
jika hari ini lebih baik dari kemarin, Merugi: hari ini sama seperti kemarin,
Celaka/Dilaknat: hari ini lebih buruk dari kemarin.
Jika iri adalah perbuatan yang dilarang, maka iri kepada orang berilmu
dibolehkan Rasul, dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori, Rasul bersabda:
“Tidak ada iri hati (yang
diperbolehkan) kecuali terhadap dua perkara, yakni :seseorang yang diberi Allah
berupa harta lalu dibelanjakanannya pada sasaran yang benar, dan seseorang yang
diberi Allah berupa ilmu dan kebijaksanaan lalu ia menunaikannya dan
mengajarkannya. (HR Al Bukhori)”
Di antara jenis penyakit hati adalah
sombong, ujub, iri, dengki, tamak, dst. Jadi di antara bentuk penyakit hati
adalah iri dan dengki. Dalam bahasa Arab atau bahasa agama ia disebut dengan
hasad. Hasad adalah tidak senang melihat seseorang mendapatkan nikmat serta
berharap agar nikmat tersebut lenyap.Dalam hal ini hasad berbeda dengan
ghibthah.Sebab, ghibthah adalah berharap mendapatkan nikmat seperti yang
didapat oleh orang tanpa menginginkan harta itu lenyap dari orang tadi. Inilah
iri yang baik yang disebutkan oleh Nabi saw,
لَاحَسَدَإِلَّافِياثْنَتَيْنِرَجُلٌعَلَّمَهُاللَّهُالْقُرْآنَفَهُوَيَتْلُوهُآنَاءَاللَّيْلِوَآنَاءَالنَّهَارِفَسَمِعَهُجَارٌلَهُفَقَالَلَيْتَنِيأُوتِيتُمِثْلَمَاأُوتِيَفُلَانٌفَعَمِلْتُمِثْلَمَايَعْمَلُوَرَجُلٌآتَاهُاللَّهُمَالًافَهُوَيُهْلِكُهُفِيالْحَقِّفَقَالَرَجُلٌلَيْتَنِيأُوتِيتُمِثْلَمَاأُوتِيَفُلَانٌفَعَمِلْتُمِثْلَمَايَعْمَلُ
“Tidak boleh iri kecuali dalam dua
hal, yaitu (1) seseorang yang Allah ajarkan al-Quran kepadanya. Kemudian ia
membacanya malam dan siang sehingga tetangganya mendengarkannya. Lalu tetangga
tersebut berkata, “Kalaulah aku diberikan karunia seperti si Fulan, maka aku
akan beramal seperti yang ia amalkan”; dan (2) seseorang yang Allah karuniai
harta.Ia menghabiskan hartanya dalam kebenaran. Lalu seseorang berkata,
“Kalaulah aku dikaruniai seperti apa yang dikaruniakan kepada si Fulan, maka
aku akan beramal seperti apa ia amalkan”. (H.R. Bukhari)”.
3. Penuh Perjuangan dan Sabar
Dikutip dari bukunya Prof. KH.Ali
Yafie “Manusia dan Kehidupan” bahwa manusia pada hakekatnya dihadapkan kepada
pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab (tantangan).Seorang manusia harus
mampu menjawab berbagai pertanyaan menyangkut kehidupannya yang terkait dengan
berbagai tantangan dan persoalan. Seorang yang menuntut ilmu sudah barang tentu
akan menghadapi macam-macam gangguan dan rintangan. Selain berusaha maka
bersabarlah untuk menghadapi semuanya itu, dan perlu diketahui bahwa sabar
adalah sebagian dari Iman, “As-Shobru mina al-îmân”. Dan Sabar disini
mengandung arti tabah, tahan menghadapi cobaan atau menerima pada perkara yang tidak
disenangi atau tidak mengenakan dengan ridha dan menyerahkan diri kepada Allah
Swt. Sabda nabi Saw:
“Bersabar adalah cahaya yang
gilang-gemilang”. (HR. Muslim)
Sabar artinya tabah, tahan menghadapi
cobaan.Orang yang sabar tahan menerima hal-hal yang tidak disenangi atau tidak
mengenakkan dengan ridha dan menyerahkan diri kepada Allah.
Sabar adalah salah satu akhlak
terpuji.Sabar juga merupakan salah satu kunci untuk meraih kebahagiaan dan
ketenangan hidup.Hidup di dunia ini penuh dengan tantangan dan cobaan.Manusia
dalam menjalani kehidupannya di dunia ini tidak luput dari ujian dan cobaan,
ketika mengalami ujian dan cobaan kita harus menhadapinya dengan sabar.Sifat
sabar bagaikan cahaya yang terang benderang dalam suasana yang gelap gulita.
Akan tetapi kesabaran disini harus
diartikan dalam pengertian yang aktif bukan dalam pengertian yang pasif.
Artinya nrimo (menerima) apa adanya tanpa usaha untuk memperbaiki keadaan.
Sesuai ajaran agama pengertian sabar dan kata-kata sabar itu misalnya dapat
ditemukan di dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran. Yakni satu surat yang terdiri
dari 200 ayat yang menjelaskan tentang keseluruhan perjuangan besar dan berat
yang telah dilakukan rasulullah Saw sepanjang hidupnya dan itu semua direkam
dalam Surat Ali Imran. Ada dua perjuangan berat dan sangat menentukan yaitu
pertempuran badar dan uhud.Di dalamnya terdapat banyak kata-kata sabar, tetapi
kata-kata sabar itu selalu diletakan dalam konteks perjuangan bukan dalam
konteks seseorang ditimpa musibah.Dengan demikian dapat diperoleh gambaran dan
kesimpulan pengertian bahwa sabar yang aktif itu artinya suatu mentalitas
ketahanan belajar, memiliki mental yang kuat untuk tekun belajar dan berusaha
keras seoptimal mungkin dengan penuh daya tahan, tidak jemu, tidak
bermalas-malasan, tetapi belajar dengan penuh semangat.Selain itu, dalam
belajar harus berkonsentrasi karena jika belajar pikirannya bercabang maka
tidak bisa optimal.Salah satu bagian dari sabar adalah Hudurul Qalb atau
berkonsentrasi.
4. Bekal (biaya)
Setiap perjuangan pasti ada
pengorbanan, itulah logikanya, manusia menjalani hidup ini butuh pengorbanan
begitupun menuntut ilmu.Biasanya, dalam hal biaya ini menjadi dalih masyarakat
yang sangat utama dalam menuntut ilmu khususnya pada pendidikan formal.Sehingga
ketika ditanya salah seorang yang tidak belajar di pendidikan formal misalnya,
“kenapa kamu atau dia tidak sekolah?” jawabannya sungguh gampang sekali, “saya
atau dia tidak sekolah karena tidak punya biaya.
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa
pendidikan wajib hukumnya bagi setiap muslim, dan dijelaskan lagi dalam hadis
“Tuntutlah ilmu mulai dari rahim ibu sampai
liang lahat”. Dari hadis tersebut kita bisa mengetahui long life education
bahwa, seumur hidup kita wajib menuntut ilmu.Pendidikan bukan hanya pendidikan
formal tetapi non formal pun ada.
Rasul menjanjikan kepada para penuntut
ilmu,
“Sesungguhnya Allah pasti mencukupkan
rezekinya bagi orang yang menuntut ilmu”
Dalam lafal hadis di atas tertulis lafazh takaffala dengan
menggunakan fi’il madhy yang aslinya mempunyai arti ‘telah mencukupkan’ yang
“seolah-olah” sudah terjadi. Maka lafazh tersebut mempunyai makna pasti,
asalkan dibarengi dengan keyakinan terhadap kekuasaan Allah.Dan yakinkanlah
bagi para penuntut ilmu walaupun dengan segala kekurangan (biaya) pasti mampu
atau bisa menyelesaikan pendidikan. Karena pasti akan ada jalan lain selama
manusia berusaha dan yakin terhadap kekuasaan dan pertolongan Allah Al-Yaqinu
Lâ Yuzâlu bis-Syak Artinya: ”keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh
keragu-raguan”. Dan akhirnya maka tidak ada alasan orang tidak bisa menuntut
ilmu karena biaya, seperti keterangan sebelumnya carilah jalan lain, solusi
lain untuk bisa menuntut ilmu.
5. Bersahabat dengan Guru
Ilmu didapat dengan dua cara. Pertama dengan bil kasbi. Yakni
didapat dengan cara usaha keras sebagaimana layaknya pencari ilmu biasa. Ia
belajar menuntut ilmu dengan tekun belajar dari bimbingan yang benar. Kedua
dengan bil kasyfi. Yakni dengan cara mendekatkan diri kepada Allah Swt secara
total. Dengan kedekatannya kepada Allah Swt, Allah akan memberi apa yang ia
minta. Cara ini adalah cara untuk orang khusus. Sebagai penuntut ilmu
berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mengkorelasikan keduanya. Juga,
berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat petunjuk guru karena tanpa petunjuk
guru dan tanpa taqarrub (ibadah mendekatkan diri) total kepada Allah bisa jadi
ilmu tersebut datangnya dari iblis la’natullah ‘alaih. Profesionalisme guru
artinya seorang guru harus mampu menguasai pelajaran sesuai dengan bidangnya.
Sebagai guru haruslah mempunyai sifat-sifat yang mencerminkan
kemuliaan ilmu dan tabi’at (akhlaq) yang baik. Kita analogikan seorang petani
profesional akan merawat tanamannya dari rumput pengganggu, ia akan membasmi
hama dan penyakitnya. Demikian pula seorang pendidik haruslah membersihkan
dirinya dari segala kebiasaan buruk dalam masyarakat.Ia akan tanggap dan
waspada dengan para penyeru maksiat. Hendaklah ia membenahi dirinya sebelum ia
menebarkan benih-benihnya. Ia harus menanamnya dalam lahan yang subur.
Hendaklah ia menyibukkan diri dengan amal kebaikan, kesibukan-kesibukan akhirat
yang akan menjadi tameng dari syahwat dan syubhat. Kemudian sebaik-baik
pendidik adalah yang konsisten dengan Al-Qur’an dan Al-Sunnah yang tercermin
lewat akhlak dan amalan-amalannya yang shalih. Cerdas dalam mendeteksi penyakit
hati serta berpengalaman dalam mengobatinya, remaja yang tumbuh dari
pendidikan—tarbiyah—yang baik maka akan menjadi buah yang segar nan ranum. Ia
bermanfaat bagi diri dan masyarakat sekitar.
Beberapa ciri-ciri tabi’at guru (pendidik) yang harus
ditanamkan adalah sebagai berikut:
1.Mencintai pekerjaannya sebagai guru
2.Adil terhadap semua murid
3.Sabar dan tenang
Berwibawa (dilihat dari ilmu dan taqwanya) serta kemampuan
memengaruhi orang lain
Selalu ikhlas mendoakan muridnyaBerusaha ikhlas mengajarkan
ilmunya.
Akibat dari sikap cuek terhadap guru, diungkapkan dalam
sebuah pepatah arab:
إن المعـلمَ والطبيبَ كلاهُما لا يَنْصَحَانِ إذا همـا لم
يُكْرَمَـا
فاصبر لدائك إن أهنتَ طَبِيبَهُ واصبر لجهلك إن جَفَوْتَ مُعلّما
فاصبر لدائك إن أهنتَ طَبِيبَهُ واصبر لجهلك إن جَفَوْتَ مُعلّما
“Sesungguhnya pengajar/guru dan thabib/dokter keduanya tidak
akan memberi nasehat jika keduanya belum dihormati.Maka bersabarlah dengan rasa
sakitmu jika engkau menjauhi dokter, dan nikmatilah kebodohanmu jika engkau
menjauhi guru.”
Sementara dalam menghormati guru, Imam Ali bin Abi Thalib
berkata:
من علمني حرفا صرت له عبداً
“Barang siapa mengajarkan kepadaku satu huruf, maka aku
menjadi hamba baginya.”
6. Waktu yang lama
Maksudnya selesaikanlah pendidikan itu samapai tuntas, jangan
sampai berhenti di tengah jalanImam Syafi’I pernah berkata:
“Imam Syafi’i
Rahimahullah dalam syairnya berkata :
“Barang siapa tidak pernah merasakan pahitnya belajar meski sekejap. Dia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hayatnya
Barang siapa yang ketinggalan belajar waktu mudanya. Maka bertakbirlah 4 kali (shalat mayit) untuk wafatnya (kematiannya)”
“Barang siapa tidak pernah merasakan pahitnya belajar meski sekejap. Dia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hayatnya
Barang siapa yang ketinggalan belajar waktu mudanya. Maka bertakbirlah 4 kali (shalat mayit) untuk wafatnya (kematiannya)”
Jati diri seorang pemuda Demi Allah adalah dengan ilmu dan
taqwa. Jika keduanya tiada, dia juga dianggap telah tiada (Diwanus Syafi’i, hal
29)
Imam Syafi’I juga pernah curhat kepada gurunya Imam Waki’
tentang susahnya mendapatkan ilmu:
Aku mengadu kepada Imam Waki’i tentang susahnya menghafal
atau mendapatkan ilmu. Maka Imam Waki’i memberiku petunjuk untuk meninggalkan
maksiat dan mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah
tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.
Dalam sebuah hadis Rasulullah menekankan peranan ilmu sebagai
kunci dalam meraih kesuksesan di dunia dan akhirat:
“Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, hendaklah
dengan ilmu.Siapa yang ingin kehidupan akhirat dengan ilmu. Dan siapa yang
menginginkan keduanya (dunia & akhirat) juga dengan ilmu” [HR Bukhari &
Muslim]
Namun satu hal yang perlu diingat, walaupun kita meraih
kesuksesan, hendaknya kita tetap rendah hati atau tawadhu, sebagaimana
diungkapkan dalam sebuah pepatah:
“Bertawadhulah
seperti bintang yang jelas nampak terlihat di atas permukaan air padahal ia
berada di tempat yang tinggi, dan janganlah engkau seperti asap, yang terus
membumbung “.
Membahas tentang kedudukan dosen di
kampus maka dosen adalah guru kita,yang mendidik kita ,yang memberi jalan pada
kita, dan kalau kita taat pada dosen ma,al yakin maanfaat ilmu yang di dapatkan,sehingga
kita bisa menjadi
Mahasiswa
yang berguna bagi masyaraka, agama,bangsa
dan negara.
Salam Pergerakan kaum PI

No comments for "DOSEN GURU ATAU FASILITATOR"
Post a Comment